Anggota DPR cukup tanda tangan absen tanpa kehadiran fisik. Mereka makan gaji buta
Rieke Diah Pitaloka. Image: fokusmetro.com |
Kini,
untuk menjadi anggota DPR tidak harus pintar, tidak harus ahli, tidak harus
faham situasi apapun, dan tidak perlu hadir secara fisik dalam setiap sidang,
bahkan pada saat penting untuk mengambil sebuah keputusan. Ini sangat berbahaya karena akan ada Undang-undang yang merugikan rakyat dan negara Indonesia. Apakah akan dibiarkan saja oleh rakyat, aktivis, mahasiswa dan anggota DPR lain yang masih punya hati nurani?
Setelah tanda-tangan, tidak perlu ikut sidang. Image: harianterbit.com |
Sepertinya para elite
atau sebagian politikus yang “ahli” sudah menyiapkan segalanya untuk disetujui,
tanpa harus ada debat, diskusi atau musyawarah. Bagi politikus malas, dan
anggota DPR yang punya urusan lain diluar entah untuk bisnis sampingan atau
barangkali selingkuh, maka tanpa kehadiran fisik merupakan peluang terbaik
mereka, dan tetap menerima gaji yang dikumpulkan dari pajak rakyat yang mereka
wakili.
Apakah tatib ini dibuat supaya wartawan tidak lagi bisa memotret anggota DPR yang sedang tidur, bermain dengan gadget, atau memergoki anggota DPR yang sedang melihat situs porno di tablet atau smartphone mereka?
Semua itu
membuat Rieke Diah Pitaloka, Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan melontarkan
protes pada tata tertib DPR yang tidak mewajibkan anggota DPR hadir secara
fisik. Ia mengaku geram karena aturan ini juga berlaku pada saat pengambilan
keputusan di tingkat komisi dan di sidang paripurna.
Pimpinan DPR dikuasai KMP. Image: politik.news.viva.co.id |
Kegeraman Rieke sangat
beralasan, bukan hanya masalah tugas dan fungsi yang harus dilakukan para
anggota DPR, namun bisa dibaca bahwa mereka yang memiliki gagasan bahwa
kehadiran fisik tidak penting, cukup tanda tangan di buku absensi – sepertinya
telah menyiapkan RUU atau draft undang-undang yang akan merugikan rakyat dan
negara.
Tatib "aneh" ini hanya ada di parlemen Indonesia. Ini tragedi nasional.
Apakah perlu ada revolusi mental di gedung DPR?
Rupanya
Koalisi Merah Putih (KMP) telah menyiapkan ‘grand design’ untuk melakukan
kegiatan legislasi yang akan merugikan rakyat. KMP telah “sukses” mencaplok
semua kursi ketua dan wakil ketua DPR, menyusul pula sapu bersih di MPR.
Ternyata tidak sampai disitu, KMP juga mengeluarkan tata tertib atau tatib DPR
yang menghalalkan kehadiran tanpa fisik, cukup dengan absen saja, kemudian suaranya dinyatakan sah. Permainan kata dibuat sedemikian rupa supaya
ada celah hukumnya. Kecurigaan dari orang-orang awam sekalipun bisa dimaklumi
jika KMP akan melakukan gerakan-gerakan politik untuk mengguncang pemerintahan
baru yang dipimpin oleh Jokowi JK.
Jika ada
keraguan masyarakat, bukan hanya pengamat bahwa KMP akan mempersulit
pemerintahan Jokowi memang telah terbaca sejak munculnya Undang-undang tentang
MD3 dan UU Pilkada. Dua skenario ini telah dimenangkan oleh KMP dengan “gemilang”
dengan mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk begadang ketika terjadi
pemilihan ketua dan wakil ketua DPR dan di MPR. Rakyat dan dunia telah
menyaksikan betapa lucunya adegan yang disuguhkan oleh para anggota DPR di
Senayan. Tidak ada debat sehat di setiap sidang yang mereka lakukan. Hujan
interupsi begitu bertubi-tubi, sementara ketua sidang sementara, khususnya
ketika pemilihan ketua DPR nampak telah siap untuk menjadi tidak peduli dengan
usulan dari anggota DPR yang hadir.
Kembali ke
masalah kehadiran fisik tidak lagi dibutuhkan, cukup dengan tanda tangan pada
kertas absensi, sepertinya merupakan contoh “bagus” untuk para pelajar dan
mahasiswa di Indonesia. Para pelajar dari TK, SD, SMP, SMU hingga universitas
akan meniru tatib di DPR.
Contoh yang ditunjukkan di gedung DPR yang katanya
terhormat itu bisa menjadi inspirasi bagi pemuda Indonesia untuk licik, nakal,
kriminal dan korupsi dalam segala aspek, bahkan bisa dijadikan sarana untuk
berbohong kepada keluarga mereka di rumah. Kini anggota DPR yang punya niat
nakal, selingkuh, korupsi dan menerima suap sudah mendapat legitimasi
sebagaimana tertuang pada tatib DPR. Entah apa dasar ide tersebut, padahal
sangat merugikan rakyat yang menggaji mereka, bahkan mereka akan diberikan
pensiun oleh negara setelah mereka mengakhiri masa baktinya pada 2019.
Apakah
begitu buruk nasib rakyat Indonesia, sehingga DPR baru yang akan berkuasa di
parlemen dari 2014 sampai 2019 ini akan menerima gaji buta tanpa kehadiran
fisik, tanpa debat sehat, sehingga mereka cukup studi banding ke luar negeri,
kunjungan ke daerah-daerah dengan fasilitas negara. Mereka akan menikmati semua
fasilitas VIP sebagai pejabat negara. Sementara itu rakyat akan mendapatkan
produk buruk dari setiap legislasi atau undang-undang yang dilahirkan oleh DPR
baru ini.
Apa yang
harus dilakukan oleh rakyat, aktivis dan para mahasiswa? Apakah semua itu akan
dibiarkan saja?
Komentar