Postingan

Menampilkan postingan dengan label tabloid obor

Hot Topic

Cegah intimidasi, politik uang dan kecurangan pada pilpres 2014

Gambar
Surat Suara Pilpres 2014. I mage: Istimewa Ada indikasi kuat tentang terjadinya kecurangan pada Pilpres 9 Juli 2014, bahkan bisa terjadi intimidasi. Apakah para saksi dan relawan siap mengamankan surat suara di Indonesia, bahkan di luar negeri?  Setelah kampanye dan lima kali debat capres dan cawapres dalam rangka pilpres 2014, maka ujungnya adalah pencoblosan pada 9 Juli 2014. Banyak pengamat dan pemantau pemilu yang mengkhawatirkan terjadinya intimidasi kepada para calon pemilih. Politik uang juga seperti serangan fajar ditengarai masih akan terjadi, terutama di kota kecil, di pedesaan dan daerah-daerah terpencil.  Jika kampanye hitam atau kampanye negatif bisa diantisipasi dan ditanggulangi melalui klarifikasi atau pelaporan ke pihak BAWASLU atau POLRI, maka yang sulit dicermati adalah kecurangan pada proses rekapitulasi surat suara, terutama di tingkat kelurahan dan kecamatan, apalagi di daerah yang jauh dari kota besar.  Kekhawatiran tersebut sangat beralasan karena berb

Kampanye Kreatif vs kampanye hitam

Gambar
Megawati bersama Jokowi, JK, Surya Paloh dan Cak Imin. Image: tribunnews.com Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Sukartno Putri, Presiden RI ke 5 sangat prihatin dengan kampanye hitam. Menurut Megawati, kampanye hitam yang marak selama pilpres 2014 dianggap tidak mendidik masyarakat. Pendapat Megawati memang benar, seharusnya kampanye bisa dibuat lebih kreatif, menghibur dan memberikan kegembiraan politik (meminjam istilah Jokowi), bukan menakutkan.  Tabloid Obor Rakyat yang menurut Dewan Pers, isi tabloid itu ditulis dan dicetak tanpa mengikuti kaidah dan kode etik jurnalistik, apalagi telah mencantumkan alamat palsu (seperti lagu Ayu Tingting) benar-benar diedarkan secara sistematis ke berbagai pesantren dan mesjid. Obor Rakyat berisi konten tentang kampanye hitam yang menyudutkan capres nomor urut 2, Joko Widodo atau Jokowi.    Ahmad Dhani dan pimpinan pasukan rahasia Nazi "SS", Heinrich Himmler.  Image: news.detik.com Ternyata isi tulisan tersebut tanpa

Indonesia Keren